Senin, 05 Juli 2010

Menjadi Bangsa yang Berkarakter


Lomba Opini Indonesia Berprestasi
Tema : “Pendidikan Indonesia : Mau Dibawa Ke Mana?”
Menjadi Bangsa yang Berkarakter
Oleh. Daniel Hermawan
Pendidikan ibarat sebuah kunci untuk membuka pintu dunia. Pendidikan memegang peranan penting bagi kemajuan suatu bangsa. Bangsa yang maju adalah bangsa yang mengutamakan pendidikan bagi warganya. Berbagai inovasi, pemikiran, penemuan, dan ide-ide cemerlang lahir dari proses pendidikan. Pendidikan membuat suatu bangsa berpikir kreatif, kritis, dan ingin tahu. Bangsa yang tidak mengenal pendidikan lambat laun akan tergerus oleh arus zaman.
Saat ini pendidikan menjadi isu hangat yang dibicarakan di Indonesia. Berbagai media massa dan elektronik menyajikan berita seputar wajah pendidikan Indonesia saat ini, mulai dari kasus plagiarisme hingga anak putus sekolah. Kasus yang terjadi di lembaga pendidikan ini telah mencoreng citra pendidikan Indonesia di mata internasional. Dunia internasional mulai meragukan kualitas dan kompetensi lulusan Indonesia akibat kasus pelanggaran akademis yang terjadi.
Kasus plagiarisme yang dilakukan Prof. Dr. Anak Agung Banyu Perwita selaku staf pengajar mata kuliah Hubungan Internasional di salah satu universitas swasta yang cukup terkemuka di Indonesia telah menodai citra pengajar Indonesia. Pengajar yang seyogianya memberi teladan bagi peserta didik, justru melakukan pelanggaran akademis yang fatal. Akibat perbuatan ini, Prof. Dr. Anak Agung terancam dipecat dan gelar doktor yang sandangnya saat ini juga terancam dicopot.
Di kalangan pelajar, MZ selaku mahasiswa program doktor di salah satu universitas negeri ternama di Indonesia juga terlibat dalam kasus serupa. MZ menjiplak laporan penelitian ilmuwan Belgia yang diikutsertakan dalam lomba penelitian internasional di China tanpa melampirkan sumber kutipan dan referensi. Akibatnya, gelar doktor MZ dicabut dan nama baik universitas MZ menjadi tercoreng.
Di sisi lain, kemiskinan juga masih menjadi masalah utama kemajuan pendidikan di Indonesia. Sebanyak 8.800 anak putus sekolah terpaksa mengamen dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Padahal mereka masih berusia sangat belia dan berada dalam usia anak sekolah. Mereka harus merelakan masa depan mereka demi memenuhi kebutuhan hidup mereka masing-masing.
Pemerintah sebenarnya sudah melakukan program BOS dan Sekolah Gratis di Indonesia. Sayangnya kedua program ini belum memberikan pencerahan bagi dunia pendidikan Indonesia. Banyak pihak  yang seharusnya menjadi sasaran utama program ini justru tidak mendapatkan haknya. Sekolah Gratis juga tidak benar-benar “gratis” dengan berbagai biaya operasional sekolah yang ada, seperti buku pelajaran, seragam, fotokopi, dan lain sebagainya. Akhirnya keberadaan kedua program ini tidak sesuai dengan yang kita harapkan.
Jujur saya prihatin melihat kasus Bank Century yang tak kunjung usai. Para wakil rakyat yang duduk di kursi DPR seakan sibuk dengan berbagai permainan politik yang menguntungkan partainya. Sikap dan tindakan para wakil DPR juga tidak mencerminkan orang yang terdidik dengan aksi dorong-dorongan dan maki-memaki di ruang DPR. Sungguh memprihatinkan memang. Pada akhirnya, pendidikan bangsa yang menjadi kunci keberhasilan suatu bangsa menjadi prioritas yang terabaikan.
Saya rasa pendidikan Indonesia saat ini sudah mengalami degradasi moral. Era kemajuan teknologi dan informasi yang berkembang di Indonesia membuat norma-norma susila yang ada mulai diabaikan. Banyak orang kini menjadikan kebenaran sebagai sesuatu yang relatif, tergantung sudut pandang orang tersebut. Sesuatu yang awalnya dianggap tabu, kini dianggap sebagai sebuah kewajaran. Tak heran jika perilaku-perilaku menyimpang, seperti korupsi, plagiarisme, mencuri, dan berbagai kasus lainnya kini dapat diartikan sebagai kebenaran bagi sekelompok orang.
Melihat fenomena ini, pemerintah mengusung tema Hari Pendidikan Nasional 2010 : “Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa”. Degradasi moral yang terjadi di dunia pendidikan saat ini dapat diatasi jika kita membenahi karakter dan pola pikir kita selama ini. Kepandaian memang kunci keberhasilan suatu bangsa. Namun, kepandaian tanpa karakter lambat laun akan menghancurkan keberhasilan yang dicapai. Karakter akan membatasi dan memberikan garis yang jelas antara sesuatu yang baik dan buruk untuk dilakukan.
Pendidikan karakter sendiri dapat diberikan di lembaga pendidikan sedari dini. Pelajar harus diajarkan dan dibina untuk menjadi pribadi yang berkarakter. Karakter manusia sendiri mencakup nilai-nilai luhur, integritas, kekuatan mental, tenggang rasa, semangat kerja sama, dan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat. Karakter akan membuat seseorang menjadi cerdas, baik secara intelektual maupun moral.
Menumbuhkan bangsa yang berkarakter memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pengajar dan pemerintah harus bekerja sama dalam mengikis nilai-nilai kebebasan dan individualisme     yang melekat dalam diri pelajar. Terlepas dari itu, keluarga juga turut membentuk karakter seseorang sedari dini. Keluarga harus menjadi lembaga pertama dan utama dalam memberikan pemahaman yang benar seputar karakter. Karakter dapat ditumbuhkan dari sikap keteladanan seseorang yang menjadi cerminan bagi orang lain.
Karakter ibarat sebuah pijakan yang menghantarkan kemajuan suatu bangsa. Tugas kita sekarang sebagai pelajar, pengajar, pemerintah, dan keluarga adalah menggali kembali nilai-nilai kebenaran yang tergerus oleh arus zaman. Karakter akan menempatkan manusia pada posisi yang tepat dan potensi yang maksimal. Maka mari kita wujudkan bangsa yang berkarakter dengan membenahi pola pikir dan mentalitas kita selama ini.
Link : http://lifeisabook51.blogspot.com/2010/05/menjadi-bangsa-yang-berkarakter.html
Continue Reading

Minggu, 06 Juni 2010

Dibawa Kemana Pendidikan Kita ? -Belajar dari Jepang-


Mencermati realitas pendidikan Indonesia saat ini, kita harus jujur mengatakan bahwa  sistem pendidikan yang dibangun masih belum ideal.  Masih banyak ditemukan catatan   kekurangan dalam beberapa hal.  Misal digugatnya UAN oleh beberapa pihak, cacatnya pelaksanaan UAN karena berbagai fakta kecurangan yang dilakukan oleh oknum pendidik, tidak klop-nya pendidikan dengan dunia kerja, mahalnya biaya pendidikan, sarana pendidikan yang masih kurang memadai, dan lain-lain.
Menarik untuk mencermati pendidikan di Jepang.  Jepang mewajibkan pendidikan dasar 9 tahun bagi warganya, sama seperti kita.  Bedanya, pemerintah hingga lini terbawah siap dengan kebijakan pendidikan wajib 9 tahun tersebut.  Akses masyarakat terhadap sarana pendidikan sangat mudah, karena setiap distrik pasti memiliki SD dan SMP dengan standar kualitas yang sama di seluruh Jepang.  Dan semua biaya pendidikan dasar itu digratiskan…tis..tis…  Kecuali untuk beberapa keperluan misal karya wisata, bentou (makan siang ).
Satu hal yang juga menarik, pendidikan dasar (shougakkou -SD) tidak mengenal ujian kenaikan kelas.  Siswa yang telah menyelesaikan proses belajar di kelas satu secara otomatis akan naik ke kelas dua, demikian seterusnya. Ujian akhir pun tidak ada, karena SD dan SMP (Chougakkou ) masih termasuk kelompok compulsory education , sehingga siswa yang telah menyelesaikan studinya di tingkat SD dapat langsung mendaftar ke SMP.  Lantas, bagaimana mengevalusi para siswanya ?
Tentu saja tetap ada proses evaluasi.  Guru tetap melakukan ulangan sesekali untuk melihat kemampuan dan daya serap murid terhadap pelajaran.  Nilai yang diberikan bukan berupa angka, tapi huruf A, B, C, kecuali untuk pelajaran matematika. Nanti di kelas 4, 5 dan 6 SD para murid diberikan test IQ untuk melihat tingkat kemampuannya.  Tapi hasil test itu bukan bertujuan untuk mengelompokkan para murid.  Sistem pendidikan di Jepang tidak mengenal klasifikasi kelas berdasarkan tingkat kecerdasan siswa (ada kelas unggulan, sekolah unggulan dan seterusnya, seperti di Indonesia ).  Semua kelas terdiri dari anak-anak dengan beragam tingkat kecerdasan. Jepang juga tidak mengenal sistem pemberian ranking atau peringkat kepada muridnya.  Sehingga semua murid tak ada yang merasa lebih dari teman-temannya.  Hasil test IQ tersebut nantinya digunakan untuk memberikan perhatian “lebih” kepada murid dengan IQ di atas normal dan di bawah normal.
Kantor pemerintah pada lini terbawah (distrik ) mempunyai data lengkap tentang penduduk di wilayahnya, termasuk data anak yang sudah masuk usia sekolah (sudah berusia 6 tahun atau lebih hingga bulan Maret tahun tersebut ). Orang tua akan dikirimi surat oleh kantor distrik yang berisi panggilan untuk memasukkan anaknya ke sekolah, berikut daftar SD negeri yang terdekat dari tempat tinggalnya.  Anak tidak diperbolehkan mendaftar SD dan SMP di luar wilayah tempat tinggalnya karena mereka mulai dididik untuk mandiri.  Anak-anak di Jepang semenjak SD tak diperkenankan untuk diantar orang tuanya ke sekolah.  Nah, bagaimana jika penduduk di distrik tersebut sedikit ?  Pendidikan di kelas tetap berlangsung walau hanya dihuni oleh 10 orang siswa sekalipun.
Untuk menjamin kualitas pendidikannya, pemerintah mengontrol dengan ketat seluruh sekolah di Jepang.  Kualitas sekolah negeri di semua distrik sama, dalam arti fasilitas sekolah, bangunan, tenaga pengajar dengan persyaratan yang sama (guru harus memegang lisensi mengajar yang dikeluarkan oleh Educational Board setiap prefecture ). Oleh karena itu mutu siswa SD dan SMP di Jepang yang bersekolah di sekolah negeri dapat dikatakan “sama”, sebab Ministry of Education mengondisikanequality di semua sekolah.
Di tingkat SMP dan SMA – sama seperti di Indonesia – ada dua kali ulangan, mid test dan final test, tetapi tidak bersifat wajib atau nasional. Hanya beberapa prefecture saja yang melaksanakan final test.  Final test dilaksanakan serentak selama tiga hari, dengan materi ujian yang dibuat oleh sekolah berdasarkan standar dari Educational Board di prefecture tersebut. Penilaian kelulusan siswa SMP dan SMA tidak berdasarkan hasil final test saja, tapi akumulasi dari nilai tes harian, ekstra kurikulermid test dan final test. Dengan sistem seperti ini, tentu saja hampir 100% siswa naik kelas atau dapat lulus.
Selanjutnya siswa lulusan SMP dapat memilih SMA yang diminatinya, tetapi kali ini mereka harus mengikuti ujian masuk SMA yang bersifat standar.  Artinya soal ujian dibuat oleh Educational Board di setiap prefecture. Dalam memilih SMA, siswa berkonsultasi dengan guru, orang tua atau disediakan lembaga khusus di Educational Board yang bertugas melayani konsultasi dalam memilih sekolah. Ujian masuk pun hampir serentak di seluruh Jepang dengan bidang studi yang sama yaitu, Bahasa Jepang,English, Math, Social Studies, dan Science. Di level SMA ini, siswa dapat memilih sekolah di distrik lain.
Untuk masuk universitas, siswa lulusan SMA diharuskan mengikuti ujian masuk universitas yang berskala nasional. Ini yang dianggap `neraka` oleh sebagian besar siswa SMA. Sebagian dari mereka memilih untuk belajar di juku (les privat, seperti di Indonesia) untuk dapat lulus ujian masuk universitas. Ujian masuk Perguruan Tinggi dilakukan dua tahap. Pertama secara nasional, soal ujian disusun olehMinistry of education, terdiri dari lima bidang studi seperti ujian masuk SMA.   Berikutnya,  siswa harus mengikuti ujian masuk yang dilakukan masing-masing universitas. Skor kelulusan adalah akumulasi ujian masuk nasional dan ujian di setiap perguruan tinggi. Nanti hasil ujian tidak diumumkan, tetapi jawaban ujian diberitakan lewat koran, televisi atau internet, sehingga peserta ujian masuk perguruan tinggi harus menghitung sendiri skornya. Jika tidak memenuhi skor minimal yang disyaratkan di fakultas/universitas pilihannya, peserta dapat mengikuti ujian masuk perguruan tinggi swasta atau menjalani masa ronin (menyiapkan diri untuk mengikuti ujian masuk di tahun berikutnya) di prepatory school (yobikou ).
Penilaian mutu pendidikan di Jepang, dengan kata lain dilakukan dengan menstandarkan ujian masuk SMA dan perguruan tinggi.  Tentu saja sistem ini bisa berjalan karena pemerintah di Jepang pun berusaha maksimal untuk menyamakan kondisi public education-nya, dalam arti menyediakan infra struktur yang sama untuk setiap jenjang pendidikan di daerah.
Kebetulan saat ini saya dan keluarga tinggal di Jepang.  Saya sering sekali memperhatikan anak-anak sekolah di sini.  Dari mulai seragam mereka, tas ransel kotak yang mereka bawa, hingga perlengkapan sekolah yang mereka gantung di sekeliling ransel.   Entah, bisa jadi kesimpulan yang saya ambil salah.  Bahwa apa yang mereka dapatkan di sekolah, apa yang diajarkan oleh para sensei, bagaimana kerasnya alam Jepang mendidik mereka, telah memberi andil pada kemajuan Jepang saat ini.
Jika kita juga ingin maju, yuk benahi juga pendidikan kita.  Sejak pendidikan pertama yang didapatkan seorang anak, yaitu dari orang tuanya di rumah.  Artinya, ini tugas kita semua sebagai orang tua.  Berikanlah anak haknya, didiklah mereka dengan hati dan cinta.
Pemerintah juga terlebih dahulu harus membenahi sarana dan fasilitas pendidikan kita di seluruh wilayah. Memang ini tidak mudah, karena kita sedang berbicara dalam konteks Indonesia dengan ribuan pulaunya, dengan tingkat akses yang berbeda-beda.  Masih begitu banyak PR besar yang kita hadapi. Menurut saya, sebelum pemerintah disibukkan dengan isu “swastanisasi” PTN atau UAN yang katanya akan meningkatkan mutu pendidikan kita.  Alangkah lebih baik jika pemerintah berupaya keras terlebih dahulu memperhatikan pemenuhan pendidikan dasar 9 tahun.  Berupaya memperluas akses masyarakat untuk mendapatkannya.  Memperbaiki sarana dan fasilitas pendidikan di tingkat ini, meningkatkan kualitas guru, dan memperbaiki kurikulumnya.  Jika pendidikan dasar kita sudah mapan dan berkualitas, insya Allah jenjang pendidikan berikutnya, akan lebih mudah ditata dan ditingkatkan kualitasnya.  Semoga bermanfaat.
Referensi bacaan : indosdm.com
Ditulis Nurul Asmayani

Continue Reading

Senin, 10 Mei 2010

Kayuhan Sepeda (Sebuah Harapan)


Kayuhan sepeda berkilometer menghantarkan menuju anak ini menuju sebuah tempat ajaib yang ia yakin akan menghantarkannya kepada kegemilangan dihari esok. Keringat yang mengucur deras bak sarapan semangat setiap paginya. Kobaran semangat yang juga membara pada kayuhan serta derap langkah yang lainnya. Ribuan bahkan jutaan anak bangsa sangat menggantungkan asa tertingginya melalui tempat ajaib ini. Tempat ajaib itu adalah sekolah.
Sekolah adalah sebuah lembaga pendidikan yang menjadi penting peranannya bagi kemajuan sebuah bangsa. Pendidikan merupakan salah satu konsumsi aqliyah bagi masyarakat Indonesia yang wajib tercukupi. Kehausan akan ilmu sesungguhnya fitrah manusia lho. Memang, urusan konsumsi perut lebih bersifat urgent. Bagaimana tidak, kalo urusan yang satu ini belum terpenuhi, bangsa ini bisa mengamuk dan berubah menjadi ganas. Bahkan bisa lebih ganas dari singga (Waw, serem). Namun, setidaknya jika kedua hal ini dapat terpenuhi dengan komposisi yang pas. Pasti bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang lebih gemilang. Karena sesungguhnya hidup seimbang akan lebih baik bukan?
Lembaga pendidikan bak sebuah mantra yang akan menyulap batu yang tidak berharga menjadi permata. Memang kata mantra disini agak berbeda dengan pengertian cara kerja mantra yang kita kenal selama ini. Mantra hanya membutuhkan beberapa detik untuk mengubah segalanya. Terlihat mudah dan nyaris tanpa usaha yang terlalu keras. Namun, lain halnya dengan pendidikan. Mantra pada pendidikan cukup membutuhkan waktu yang lama dalam melakukan pekerjaanya. Bisa bisa berbelas-belas tahun, perpuluh-puluh tahun, bahkan bisa lho sampai seumur hidup. Ada sebuah proses panjang dalam mencapai permata itu.
Semangat kayuhan sepeda dan derap langkah dengan konsisten mencapai kegemilangan itu. Proses batu yang telah membatu berubah secara perlahan dan berkala. Perubahan yang konsisten dan pasti menuju permata yang berkilau indah. Namun, ternyata ketidakpastian mengombang-ambing proses ini. Siapa lagi yang bisa melakukan ini. Ya, kekuasaan para elit yang mengusik konsistensi dengan terjangan ketidakpastian kebijakan serta upeti.
Para elit kelas atas sibuk mengubah-ubah kebijakan dengan alih-alih sistem harus bergerak maju. Kebijakan yang dianggap maju karena telah terbukti berhasil di negara maju. Mengertikah para elit tersebut tentang kebijakan yang sesungguhnya mereka keluarkan? Mengertikah mereka tentang pendidikan? Mengertikah mereka tentang bangsa ini secara komperhensif? Saya kira mereka sesungguhnya harus mempertannyakan ini dulu sebelum menjadi kendaraan yang akan mengakomodasi pendidikan negeri ini. Jangan-jangan mereka hanya mengejar lontaran pujian. Prestise mereka menjadi meninggi karena telah mampu ke barat-baratan.
Para elit kelas bawah mungkin dalam hal ini hanya menjadi perpanjangan tangan dari elit kelas atas terkait dengan pelaksanaan kebijakan yang selalu saja berubah-ubah. Para elit kelas bawah mungkin tidaklah pantas untuk dipersalahkan terkait dengan kebijakan. Namun, hal ini tidak membuat elit kelas bawah luput dari ke nistaan. Elit kelas bawah yang “bermata ijo”. Mereka biasanya bermain-main dengan upeti. Menguras kantong-kantong usang dengan tagihan upeti hingga kantong-kantong tersebut menjadi kering kerontang. Tak jarang saat kantong-kantong telah kering kayuhan sepeda dan derap langkah terhenti. Berhenti karena dihentikan oleh “si mata ijo”.
Banyak derap langkah yang harus terhenti karena mereka bingung menentukan arahnya. Peta yang mereka pegang ternyata sudah kadaluwarsa. Mereka bingung dan keadaan ini memaksa mereka harus berbalik arah ke garis awal dan mulai mengikuti peta yang baru. Ternyata dipertengahan peta yang baru mereka dapatkan telah berganti lagi dengan yang baru. Walaupun tertatih mereka sabar mengurut langkah dengan pelan dan sabar dengan peta yang terbaru. Peta ini pun tanpa sadar telah kadaluwarsa juga. Kaki-kaki mereka mulai menggerutu dan menampakan protes kekesalan karena alur yang tidak pasti. Derap langkah pun memilih untuk berhenti saja.
Saat kayuhan sepeda berputar dengan kecepatan rotasi yang sangat tinggi sehingga sampailah ia pada garis finish. Garis yang sesungguhnya bukanlah garis akhir. Garis ini merupakan penanda bahwa ia berhak untuk melanjutkan kayuhan ke lintasan berikutnya. Namun, Tidak bisa karena legitimasi itu tidak mampu ditebus. Apalagi kalau tidak karena kantong-kantong yang sudah keburu mengering.
Akankah keadaan seperti ini terus terjadi? Sedangkan bangsa diluar sana semakin banyak memproduksi permata-permata berkualitas. Akankah dibiarkan saja sepak terjang “sang pemburu prestise” dan “si mata ijo”? Jadi, Mau di Bawa ke Mana Pendidikan Negeri Ini? Bukan hanya saya, kamu, dia, atau mereka yang memiliki kewajiban untuk menjawab ini. Kita semua lah yang memiliki beban untuk menjawab ini semua.
17 Mei 2010, 23:33
Jakarta


Continue Reading

Rabu, 15 Juli 2009

Masa depan Sungai Ciliwung..

Apa yang terfikirkan di dalam benak Anda tentang salah satu sungai yang ada di Jakarta ini. Mungkin yang di pikiran Anda adalah sungai kotor, bau, hitam warnanya, banyak sampah atau yang lainnya. Ya, itu memang benar dan sesuai dengan faktanya. Tapi apakah Anda tidak berfikir bagi sebagian orang, Ciliwung mempunyai banyak manfaat. Khususnya yang hidup disekitar sungai tersebut. Bagi mereka Ciluwung menyimpan sejuta manfaat dan sejuta harapan. Mereka hidup disana juga karena terpaksa. Tapi mereka tetap tegar dsan sabar meski memiliki resiko yang cukup besar, yaitu banjir bisa menyapa dan mendatangi rumah mereka.

Hari demi hari mereka jalani dengan was – was karena bias sewaktu – waktu banjir bias mendatangi rumah mereka. Tapi menurut saya, yang menyebakan banjir itu sering terjadi karena ulah mereka itu juga. Mereka membuang sampah sembarangan, tidak memperhatikan alam, tidak memperhatikan lingkungan sekitarnya. Akibatnya, air sungai mampet lalu meluap kemudian banjir. Tapi sebagai warga Jakrta atau warga yang dilalui sungai Ciliwung, kita patut bersyukur dengan adanya sungai ciliwung ini. Tanpa sungai Ciliwung air tidak dapat dialirkan menuju laut. Coba Anda bayangkan jika kota sepadat dan gedung pencakar langit bertaburan bvak gula dikerubuti semut seperti Jakarta ini. Jika musim hujan dating, yaa seperti sekarang ini. Air tidak dapat dialirkan ke laut, tidak dapat ditampung dan tidak dapat diserap oleh tanah. Apa yang akan terjadi pada saat itu. Ya benar banjir akan segera bertamu ke Jakarta. Maka dari itu kitu patut bersyukur kepada Allah SWT yang telah menciptakan sungai yang sangat indah ini. Dan tugas kita hanyalah merawat dan menjaga kebersihan dari sungai ini.

Anda pasti tahu bahwa setiap sungai pasti ada hulu dan hilirnya. Sungai Ciliwung pun demikian. Manurut yang say baca di rubrik Ekspedisi Ciliwung yang diselenggarakn oleh tim Kompas. Hulu Ciliwung itu berada di kawasan Puncak Pass, Bogor, Jawa Barat. Sedangkan Hilirnya, berakhir di Teluk Jakarta. Mulai dari Hulu sampai Hilirnya, Ciliwung menyimpan sisi lain yang barang kali Anda sudah atau belum mengetahuinya.

Airnya jernih, bersih, bening dan tak berwarna serta tak berasa. Itulah gambaran dari sungai Ciliwung. Indah bukan !!. Masyarakat disana sangat menjaga kebersihan dan kealamian sungai ciliwung itu. Mereka hidup di sungai, mandi di sungai, nyari uang di sungai, semuanya serba di sungai. Anak – anak pada kegirangan main air, lompat sana sini, terjun. Sampe – sampe ada yang keselek karena kemasukan air sungai, Bagi mereka, sungai adalah segalanya.

Aliran sungai perlahan – lahan memasuki wilayah kota. Barulah terlihat sosok sungai Ciliwung yang kita kenal. Rumah – rumah illegal mulai tumbuh bagaikan rumput liar. “akibat factor ekonomi saya tinggal disini” sahut salah seorang warga bantaran kali. Ya, itulah hidup. Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis dan sporadic, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistic yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbataskan.

Bagi sebagian masyarakat Indonesia. Dimana ada sungai, disitu ada kehidupan. Sama halnya di sungai Ciliwung. Ciliwung memberikan sumber kehidupan bagi mereka yang tinggal di sekitar aliran sungai tersebut. Contohnya: Sungai Ciliwung bisa dijadikan tempat mencuci pakaian atau yang lainnya. Bisa juga dijadikan tempat mandi, tempat buang air, baik air besar maupuhn air kecil. Pokoknya banyak deh manfaatnya dari sungai yang terpanjang di Jakarta ini.

Sekarang coba kita lihat sungai yang ada di Negara tetangga kita, yaitu Singapore. Di Singapore sungai dirawat dan dijaga kebersihannya. Lihat saja sungai yang ada disana, pasti bersih airnya. Tidak seperti sungai Ciliwung yang butek. Kita patut mencontoh apa yang mereka lakukan dalam menjaga sungainya agar tetap bersih dan indah. Disana juga, sungai itu dijadikan salah satu Objek dan daya tarik wisata yang cukup menarik bagi wisatawan local maupun wisatawan luar negri. Kalau kita menjaga dan merawat sungai yang kita cintai ini mungking Masa Depan Ciliwung akan berubah.

Dan katanya juga, menurut yang say abaca di Koran harian kompas. Pemerintah DKI Jakarta sedang melakukan pengerukan. Dengan tujuan untuk mengurangi beban banjir yang ditanggung Jakarta. Ya, kita berdoa saja semoga itu bisa segera terwujut. Dan juga Pemerintah DKI telah berusaha untuk memperbaiki dan menghijaukan kembali bantaran Sungai Ciliwung itu.
Setelah Sungai ini telah berhasil dibenahi, maka sungai ini bisa kita manfaatkan sebagai salah satu objek wisata dan daya tarik wisatawan. Dan mampu meningkatkan pendapatan, baik itu pendapatan Negara maupun pendapatan Rakyat. Sesuai dengan program pemerintah yaitu program Water Way. Wisatawan dapat berkeliling melihat keindahan Kota Jakarta ini dari sudut pandang yang berbeda.

Hari demi hari Sungai Ciliwung menanggung beban yang semakin hari semakin berat. Sudah tak terhitung jumblahnya. Seandainya Sungai Ciliwung bisa berbicara, maka ia akan mengatakan “ Hai manusia, Aku sudah lelah, sudah tak sanggup lagi untuk menahan beban yang kau timpakan kepadaku. Berhentilah menyiksaku, Aku ingin mengalir dengan derasnya, Aku ingin membuang, mengusir dan menghindari benda – benda yang akan berusaha menghentikanku. Aku ingin kehidupan seperti apa yang dialami sungai – sungai laninya, penuh dengan kesejukan. Aku ingi hidup ! ingin merasakan sari pati hidup ! ingin merasakan air terjun alami !”
Oleh karena itulah, kita sebagai khalifah yang ditugaskan oleh Allah SWT untuk mengelola Bumi ini, sudah sepantasnya menjaga, melestarikan dan merawat alam, khususnya Sungai yang satu ini, Sungai yang akan mengubah Kota Jakarta, Sungai yang akan melindungi Kota Jakarta dari terjangan BANJIR, yaitu Sungai CILIWUNG.

Artikel ini diambil dari blognya Ahmad
Continue Reading

Minggu, 24 Mei 2009

Tragedi Atas Nama Demokrasi

Jika masalahnya hanya memperlihatkan kebodohan para pihaknya tentu tak masalah. Tapi, jika tindakan itu membuat energi bangsa ini terbuang sia-sia dan menyeret sebagian dari bangsa ini ke jurang kemunduran tentu Indonesia sangat merugi. Itulah yang sedang dan bakal terjadi dari wacana pengembalian Pancasila sebagai asas tunggal partai-partai politik.

Seperti diberitakan koran ini, tiga fraksi di DPR dari partai besar, yaitu Partai Golkar, PDIP, dan Partai Demokrat memasukkan masalah ini dalam daftar isian masalah (DIM) untuk dibahas dalam penyusunan paket undang-undang politik. Tentu ini kabar yang sangat menyentak. Ibarat cuaca: Tak mendung, awan cumulus pun tak ada, namun langit dipaksa untuk menurunkan hujan. Dalam kehidupan nyata, tentu itu mustahil, termasuk untuk menciptakan hujan buatan. Tapi dalam politik, semuanya mungkin saja. Harganya pun pasti sangat mahal. Akan ada pemaksaan dan pemerkosaan. Itulah sejatinya represi, tirani, dan fasisme.

Apakah kita harus menuruti saja apa maunya para politisi kita yang terhormat tersebut? Berdemokrasi tanpa memahami apa itu esensi demokrasi akan melahirkan banyak parodi dan ironi. Pasangan demokrasi adalah penghormatan terhadap kebebasan dan kemanusiaan. Dalam politik, kebebasan itu adalah kebebasan dalam berekspresi dan berserikat bagi seluruh warga. Tanpa ada sekat apa pun, termasuk sekat ideologi. Yang menjadi batas hanyalah kemanusiaan.

Dalam mempraktikkan kebebasan tersebut tak boleh ada penistaan dan pelanggaran terhadap kemanusiaan. Karena itulah, dalam kovenan Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak Sipil dan Politik, soal ini sudah diatur dengan jelas dan tegas. Setiap kebalikannya adalah pelanggaran terhadap demokrasi, yang jika dipaksakan akan terjadi pelanggaran terhadap kemanusiaan. Itulah yang terjadi di masa rezim Orde Baru, yang berhasil kita tumbangkan lewat gerakan reformasi. Sehingga, pemaksaan kembali ke asas tunggal adalah pengkhianatan terhadap reformasi dan mengingatkan kembali ke praktik rezim Soeharto. Semuanya belum terlalu lama untuk kita bisa lupa.

Tentu saja, setiap bangsa memiliki sejarah masing-masing. Jerman dan bangsa-bangsa Barat yang tercabik oleh Nazisme memiliki alasan yang sah untuk melarang ideologi tersebut. Begitu juga Indonesia, yang tiga kali dikhianati oleh PKI, punya hak untuk melarang komunisme. Dengan demikian, demokrasi yang berujung pada penghormatan terhadap pluralisme dan ekspresi tiap individunya memang bisa saja ada batas yang disahkan oleh sejarah dan nilai-nilai yang memiliki akar sosial. Tanpa itu, tak akan ada pluralisme yang kokoh dan berakar.

Pada sisi lain, politik warga harus dibedakan dengan politik negara. Apa yang dikemukakan di atas adalah politik warga. Sedangkan untuk politik negara, kita sudah memiliki dasar negara yang kuat lewat UUD 1945. Di sana kita sudah sepakat mau ke mana dan dengan apa Indonesia disusun dan ditegakkan. Indonesia adalah negara Pancasila. Itulah harga yang tak bisa ditawar. Namun, jangan sampai kita dibuat campur aduk antara politik warga dan politik negara.

Kita khawatir bahwa wacana ini dikemukakan hanya untuk tujuan-tujuan jangka pendek, berupa kepentingan politik sesaat. Misalnya hanya untuk mengerdilkan partai tertentu yang sekarang sedang berkembang pesat. Tentu ini adalah cara-cara yang bodoh dan keblinger. Tak salah jika citra politisi kita terus merosot. Pada sisi lain, kita merindukan hadirnya negarawan. Wacana asas tunggal ini hanya akan melahirkan blessing in disguise kepada publik: Di manakah sarang politisi hitam tersebut.

Kekhawatiran tersebut sangat beralasan. Karena, saat ini tak ada gejala maupun fakta keras bahwa Pancasila terancam oleh asas partai. Selain itu, nasionalisme bukan sedang tergerus oleh identitas politik. Kita justru sedang menghadapi krisis integritas para pemimpin. Kita merindukan kejujuran, kejuangan, kerja keras, dan kedisiplinan. Itulah hal-hal yang harusnya menjadi kegelisahan para politisi kita.

Sumber: Republika Online
Continue Reading
 

About

Site Info

Text

Aspirasi Rakyat Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template