Senin, 10 Mei 2010

Kayuhan Sepeda (Sebuah Harapan)


Kayuhan sepeda berkilometer menghantarkan menuju anak ini menuju sebuah tempat ajaib yang ia yakin akan menghantarkannya kepada kegemilangan dihari esok. Keringat yang mengucur deras bak sarapan semangat setiap paginya. Kobaran semangat yang juga membara pada kayuhan serta derap langkah yang lainnya. Ribuan bahkan jutaan anak bangsa sangat menggantungkan asa tertingginya melalui tempat ajaib ini. Tempat ajaib itu adalah sekolah.
Sekolah adalah sebuah lembaga pendidikan yang menjadi penting peranannya bagi kemajuan sebuah bangsa. Pendidikan merupakan salah satu konsumsi aqliyah bagi masyarakat Indonesia yang wajib tercukupi. Kehausan akan ilmu sesungguhnya fitrah manusia lho. Memang, urusan konsumsi perut lebih bersifat urgent. Bagaimana tidak, kalo urusan yang satu ini belum terpenuhi, bangsa ini bisa mengamuk dan berubah menjadi ganas. Bahkan bisa lebih ganas dari singga (Waw, serem). Namun, setidaknya jika kedua hal ini dapat terpenuhi dengan komposisi yang pas. Pasti bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang lebih gemilang. Karena sesungguhnya hidup seimbang akan lebih baik bukan?
Lembaga pendidikan bak sebuah mantra yang akan menyulap batu yang tidak berharga menjadi permata. Memang kata mantra disini agak berbeda dengan pengertian cara kerja mantra yang kita kenal selama ini. Mantra hanya membutuhkan beberapa detik untuk mengubah segalanya. Terlihat mudah dan nyaris tanpa usaha yang terlalu keras. Namun, lain halnya dengan pendidikan. Mantra pada pendidikan cukup membutuhkan waktu yang lama dalam melakukan pekerjaanya. Bisa bisa berbelas-belas tahun, perpuluh-puluh tahun, bahkan bisa lho sampai seumur hidup. Ada sebuah proses panjang dalam mencapai permata itu.
Semangat kayuhan sepeda dan derap langkah dengan konsisten mencapai kegemilangan itu. Proses batu yang telah membatu berubah secara perlahan dan berkala. Perubahan yang konsisten dan pasti menuju permata yang berkilau indah. Namun, ternyata ketidakpastian mengombang-ambing proses ini. Siapa lagi yang bisa melakukan ini. Ya, kekuasaan para elit yang mengusik konsistensi dengan terjangan ketidakpastian kebijakan serta upeti.
Para elit kelas atas sibuk mengubah-ubah kebijakan dengan alih-alih sistem harus bergerak maju. Kebijakan yang dianggap maju karena telah terbukti berhasil di negara maju. Mengertikah para elit tersebut tentang kebijakan yang sesungguhnya mereka keluarkan? Mengertikah mereka tentang pendidikan? Mengertikah mereka tentang bangsa ini secara komperhensif? Saya kira mereka sesungguhnya harus mempertannyakan ini dulu sebelum menjadi kendaraan yang akan mengakomodasi pendidikan negeri ini. Jangan-jangan mereka hanya mengejar lontaran pujian. Prestise mereka menjadi meninggi karena telah mampu ke barat-baratan.
Para elit kelas bawah mungkin dalam hal ini hanya menjadi perpanjangan tangan dari elit kelas atas terkait dengan pelaksanaan kebijakan yang selalu saja berubah-ubah. Para elit kelas bawah mungkin tidaklah pantas untuk dipersalahkan terkait dengan kebijakan. Namun, hal ini tidak membuat elit kelas bawah luput dari ke nistaan. Elit kelas bawah yang “bermata ijo”. Mereka biasanya bermain-main dengan upeti. Menguras kantong-kantong usang dengan tagihan upeti hingga kantong-kantong tersebut menjadi kering kerontang. Tak jarang saat kantong-kantong telah kering kayuhan sepeda dan derap langkah terhenti. Berhenti karena dihentikan oleh “si mata ijo”.
Banyak derap langkah yang harus terhenti karena mereka bingung menentukan arahnya. Peta yang mereka pegang ternyata sudah kadaluwarsa. Mereka bingung dan keadaan ini memaksa mereka harus berbalik arah ke garis awal dan mulai mengikuti peta yang baru. Ternyata dipertengahan peta yang baru mereka dapatkan telah berganti lagi dengan yang baru. Walaupun tertatih mereka sabar mengurut langkah dengan pelan dan sabar dengan peta yang terbaru. Peta ini pun tanpa sadar telah kadaluwarsa juga. Kaki-kaki mereka mulai menggerutu dan menampakan protes kekesalan karena alur yang tidak pasti. Derap langkah pun memilih untuk berhenti saja.
Saat kayuhan sepeda berputar dengan kecepatan rotasi yang sangat tinggi sehingga sampailah ia pada garis finish. Garis yang sesungguhnya bukanlah garis akhir. Garis ini merupakan penanda bahwa ia berhak untuk melanjutkan kayuhan ke lintasan berikutnya. Namun, Tidak bisa karena legitimasi itu tidak mampu ditebus. Apalagi kalau tidak karena kantong-kantong yang sudah keburu mengering.
Akankah keadaan seperti ini terus terjadi? Sedangkan bangsa diluar sana semakin banyak memproduksi permata-permata berkualitas. Akankah dibiarkan saja sepak terjang “sang pemburu prestise” dan “si mata ijo”? Jadi, Mau di Bawa ke Mana Pendidikan Negeri Ini? Bukan hanya saya, kamu, dia, atau mereka yang memiliki kewajiban untuk menjawab ini. Kita semua lah yang memiliki beban untuk menjawab ini semua.
17 Mei 2010, 23:33
Jakarta


Continue Reading
 

About

Site Info

Text

Aspirasi Rakyat Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template