Senin, 27 April 2009

Waspasdai Ramalan Ke-7 Joyoboyo Oleh Sujiwo Tejo

Sebanyak enam ramalan Joyoboyo terjadi, adakah ramalan ketujuh bakal muncul?

Keenam ramalan Joyoboyo yang sudah terjadi adalah runtuhnya Majapahit, Belanda masuk. Hengkangnya Belanda, Jepang masuk, perang saudara dan bertenggernya kekuasaan tentara. Sedangkan ramalan ketujuh adalah Tikus pithi anoto baris. Tafsirnya, barisan pemberontakan rakyat Nusantara dari berbagai penjuru.

Geger 1998 yang melengserkan President Soeharto sebetulnya belum merata. Bisa dikatakan, ini Cuma pecah di beberapa kampus, Gedung MPR/DPR, glodok, dan beberapa tempat di Jakarta. Situasi akan jauh berbeda dibandingkan berkorbarnya api dari tikus pithi anoto baris yang sekamnya kini mulai rantak membara di sekujur Nusantara karena cekcok pemilu legislative.

Namun, tikus pithi anoto baris sebenarnya bias dihindari. Nujum memang bertugas membuat kita pasrah menyongsong kehadirannya yang laksana nasib. Tetapi, bukankah nubuat juga membuat kita ancang-ancang, waspada, dan melakukan berbagai nazar agar kehadirannya batal?

Membatalkan hasil pemilu?

Menggugurkan hasil pemilu legislative kelihatanya sudah tidak mungkin, demi beberapa fakta. Antara lain, pertama, partai-partai besar dan partai-partai lumayan sibuk memikirkan koalisi untuk pemilu presiden. Artinya, tanpa dikatakan, mereka sebenarnya sudah nrimo hasil pemilu legislative.

Kedua, Mahkamah Konstitusi mengatakan, pemilu legislative mustahil dibatalakan. Yang bias diubah atas dasar persidangan perkara hanya komposisi penghasilan suara partai.

Ketiga, Prabowo Subianto sang”kuda hitam”, perlu menggalang dukungan partai-partai kecil untuk maju dalam pemilu presiden. Dalam logika sederhana dan awam. Itu berarti partai-partai kecil harus menandatangani berita acara keabsahan pemilu legislative.

Cacah Ulang

Yang paling mungkin menghindari tikus pithi anoto baris adalah titah kepemimpinan nasional agar semua pihak gotong royong membantu cacah ulang peserta pemilu presiden mendatang. Ini karena perasaan saja bahwa ada tau tidak ada rekayasa politik, daftar pemilih tetap(DPT) akan kacau jika data mentah yang mendasarinya pun sudah kacau.

Titah dan ketegasan sikap kepemimpinan nasional inilah yang akan membuat cacah ulang data dasar tak bakal mustahil dilakukan dalam waktu singkat. Apalahi dengan bantuan teknologi informasi.

Misalnya, mengaktifkan lagi petugas BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) yang tersebar sampai pelosok. Kita ingat, bahkan sampai tingkat desa, para petugas itu tidak Cuma mencatat peserta KB. Dalam wilayah tugasnya dan dalam perkembangan berikutnya, mereka tahu siapa yang Lampid (Lahir, Mati, Pindah, Datang). Kabarnya mereka masih punya data hingga 2005, Sistem pensataanya pun masih ada. Begitu tombol diaktifkan,…jalan!

Titah dan ketegasan sikap kepemimpinan Nasional juga bias menggerakkan ibi-ibu PKK, Karang Taruna, dan Pramuka serta RT/RW untuk saling bahu-membahu. Hasil pencacahan berbagai pihak itu saling di-cross check dengan hasil dari administrasi kependudukan Depdagri yang punya wilayah di tiap pusat provinsi maupun dinas-dinas catatan sipil tingkat kota/kabupaten yang punya tangan sampai tingkat RT. Holopis kuntul baris dan rambate rata hayo dari semua ini kita pasok data dasar ke KPU yang selanjutnya akan memprosesnya menjadi DPT.

Mungkin saja keaktifan penyelenggara Negara dalam pencatatan ulang ini menyimpang dari undang-undang yang justru mengharuskan rakyak aktif mencatatatkan diri sendiri, penyelenggara Negara pasif. Tetapi, seingat penulis, jika kemudian terbukti UU bertentangan dengan akal sehat dan kondisi nyata masyarakat, kepemimpinan nasional bias mengeluarkan peraturan pengganti undang-undang. Maka, lebih baik mempunyai undang-undang buruk tetapi hakimnya(pemimpinnya) baik dan bernurani daripada sebaliknya.

Langkah lain

Selain cacah ulang data yang mendasari penyusunan DPT untuk pemilu presiden, mungkin masih ada langkah-langkah lain penghindaran tikus pithi anoto baris. Yang pasti, segenap upaya penghindaran harus dituntaskan.

Ini penting mengigat enam ramalan Joyoboyo sudah terjadi, yaiotu Murcane Sabdo Palon Noyo Genggong (runtuhnya Majapahit), Semut Ireng Anak-anak Sapi (masuknya Belanda), Kebo Nyarang Kali (Belanda kenyang dan hengkang), Kejajah Saumur Jagung Karo Wong Cebol Kepalang (Jepang masuk 3,5 abad), Pitik Tarung Sak Kandang (perang saudara zaman Bung Karno), Kodok Ijo Ongkang-Ongkang (tentara berkuasa era Soeharto).

Hitung-hitung, sambil menjajal diri, siapakah yang lebih sakti, kita semua dari millennium ini atau “Cuma” seorang diri Joyoboyo dari abad ke-11 silam?
Continue Reading

Minggu, 19 April 2009

Solusi Macet Masa Kini dan Masa Depan

Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya. Sering terjadi kemacetan dimana-mana. Sebenernya apa sih penyebab dari kemacetan itu sendiri ? Ada beberapa sebab yang bias dijadikan tersangka (weleehhh tersangka kaya’ kasus ajahh).

Diantara dari sekian banyak sebabnya. Saya ingin membicarakan tersangka yang satu ini, yaitu banyaknya kendaraan bermotor yang berlalu lalang. Kenapa say mengambil topic ini? Karena setiap saya berpergian kemana-mana, saya selalu melihat mobil (pribadi) diisi hanya dengan satu manusia saja. Jika penduduk Jakarta sekian juta jiwa, maka sekian juta pulalah mobilnya. Waduhhh…gimana nggak mau macet…!!!

Bukan hanya mobil saja, tetapi motor juga berperan penting sebagai tersangka penyabab kemacetan. Lihat saja di setiap lampu merah pada barisan terdepan. Apa yang ada disana? Yup..Motor menguasainya. Banyak sekali motor di Jakarta itu dipengaruhi dengan harganya yang cukup murah bagi kalangan ekonomi menengah kebawah dan sekarang kredit udah gampang. Jadi tunggu apalagi!!!Tak hanya itu angkutan umum juga turut serta dalam menyumbangkan armadanya ke jalan raya.

Selain itu, kendaraan bermotor juga menyebabkan polusi yang tidak sedikit dan dapat berakibat fatal. Di saaat jalanan sepi, mobuil atau motor sering seenaknya menancapkan pedal gas mereka dan melaju dengan cepatnya. Saya pernah membaca di Koran Jakarta, bahwa mobil yang melaju normal dengan mobil yang melaju cepat itu berbeda tingkat polusi yang dikeluarkannya. Semakin cepat laju mobil tersebut maka semakin besar pula karbon yang dikeluarkan oleh kuda besi tersebut.

Beragam upaya telah dilakukan oleh Pemda kota Jakarta untuk mengatasi kemacetan ini. Mulai dari Buswaqy, anak sekolah dimajukan jam masuknya, proyek monorel yang tak kunjung kelar, dsb. Tapi tetap tak bias mengatasi yanga namanya macet. Menurut saran saya, sebaiknya produksi mobil atau kendaraan bermotor dihentikan atau diminimalisir. Tapi itu tak akan mungkin melihat banyaknya warga yang menggantungkan hidupnya sebagai pekerja di pabrik atau perusahaan pembuat kendaraan bermotor. Lantas upaya apa lagi yang harus dilakukan? Untuk itu sudah sebaiknya kita mencontoh Negara yang pernah menjajah kita selama 350 tahun, yaitu Belanda. Disana, mobil atau motor jarang sekali terlihat yang terlihat hanyalah sepeda. Di Belanda kendaraan utama bukanlah mobil seperti di Indonesia melainkan sepeda. Pemerintah Belanda juga menyediakan faailitas jalu khusus sepeda yang digunakan untuk pengendara sepeda. Tapi program sepeda ini apabila diterapkan, akan memakan waktu yang tidak sebentar untuk mensosialisasikannya dan membutuhkan kerja sama serta peran dari masyarakat dengan pemerintah.

Ayolah kawanku…mulai sekarang beralilah ke sepeda, selain ekonomis karma tak perlu bensin dan juga ngak perlu antre berjam-jam untuk membelinya, sepeda juga menyehatkan. Bike To Everyone.

Continue Reading
 

About

Site Info

Text

Aspirasi Rakyat Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template