Rabu, 15 Juli 2009

Masa depan Sungai Ciliwung..

Apa yang terfikirkan di dalam benak Anda tentang salah satu sungai yang ada di Jakarta ini. Mungkin yang di pikiran Anda adalah sungai kotor, bau, hitam warnanya, banyak sampah atau yang lainnya. Ya, itu memang benar dan sesuai dengan faktanya. Tapi apakah Anda tidak berfikir bagi sebagian orang, Ciliwung mempunyai banyak manfaat. Khususnya yang hidup disekitar sungai tersebut. Bagi mereka Ciluwung menyimpan sejuta manfaat dan sejuta harapan. Mereka hidup disana juga karena terpaksa. Tapi mereka tetap tegar dsan sabar meski memiliki resiko yang cukup besar, yaitu banjir bisa menyapa dan mendatangi rumah mereka.

Hari demi hari mereka jalani dengan was – was karena bias sewaktu – waktu banjir bias mendatangi rumah mereka. Tapi menurut saya, yang menyebakan banjir itu sering terjadi karena ulah mereka itu juga. Mereka membuang sampah sembarangan, tidak memperhatikan alam, tidak memperhatikan lingkungan sekitarnya. Akibatnya, air sungai mampet lalu meluap kemudian banjir. Tapi sebagai warga Jakrta atau warga yang dilalui sungai Ciliwung, kita patut bersyukur dengan adanya sungai ciliwung ini. Tanpa sungai Ciliwung air tidak dapat dialirkan menuju laut. Coba Anda bayangkan jika kota sepadat dan gedung pencakar langit bertaburan bvak gula dikerubuti semut seperti Jakarta ini. Jika musim hujan dating, yaa seperti sekarang ini. Air tidak dapat dialirkan ke laut, tidak dapat ditampung dan tidak dapat diserap oleh tanah. Apa yang akan terjadi pada saat itu. Ya benar banjir akan segera bertamu ke Jakarta. Maka dari itu kitu patut bersyukur kepada Allah SWT yang telah menciptakan sungai yang sangat indah ini. Dan tugas kita hanyalah merawat dan menjaga kebersihan dari sungai ini.

Anda pasti tahu bahwa setiap sungai pasti ada hulu dan hilirnya. Sungai Ciliwung pun demikian. Manurut yang say baca di rubrik Ekspedisi Ciliwung yang diselenggarakn oleh tim Kompas. Hulu Ciliwung itu berada di kawasan Puncak Pass, Bogor, Jawa Barat. Sedangkan Hilirnya, berakhir di Teluk Jakarta. Mulai dari Hulu sampai Hilirnya, Ciliwung menyimpan sisi lain yang barang kali Anda sudah atau belum mengetahuinya.

Airnya jernih, bersih, bening dan tak berwarna serta tak berasa. Itulah gambaran dari sungai Ciliwung. Indah bukan !!. Masyarakat disana sangat menjaga kebersihan dan kealamian sungai ciliwung itu. Mereka hidup di sungai, mandi di sungai, nyari uang di sungai, semuanya serba di sungai. Anak – anak pada kegirangan main air, lompat sana sini, terjun. Sampe – sampe ada yang keselek karena kemasukan air sungai, Bagi mereka, sungai adalah segalanya.

Aliran sungai perlahan – lahan memasuki wilayah kota. Barulah terlihat sosok sungai Ciliwung yang kita kenal. Rumah – rumah illegal mulai tumbuh bagaikan rumput liar. “akibat factor ekonomi saya tinggal disini” sahut salah seorang warga bantaran kali. Ya, itulah hidup. Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis dan sporadic, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistic yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbataskan.

Bagi sebagian masyarakat Indonesia. Dimana ada sungai, disitu ada kehidupan. Sama halnya di sungai Ciliwung. Ciliwung memberikan sumber kehidupan bagi mereka yang tinggal di sekitar aliran sungai tersebut. Contohnya: Sungai Ciliwung bisa dijadikan tempat mencuci pakaian atau yang lainnya. Bisa juga dijadikan tempat mandi, tempat buang air, baik air besar maupuhn air kecil. Pokoknya banyak deh manfaatnya dari sungai yang terpanjang di Jakarta ini.

Sekarang coba kita lihat sungai yang ada di Negara tetangga kita, yaitu Singapore. Di Singapore sungai dirawat dan dijaga kebersihannya. Lihat saja sungai yang ada disana, pasti bersih airnya. Tidak seperti sungai Ciliwung yang butek. Kita patut mencontoh apa yang mereka lakukan dalam menjaga sungainya agar tetap bersih dan indah. Disana juga, sungai itu dijadikan salah satu Objek dan daya tarik wisata yang cukup menarik bagi wisatawan local maupun wisatawan luar negri. Kalau kita menjaga dan merawat sungai yang kita cintai ini mungking Masa Depan Ciliwung akan berubah.

Dan katanya juga, menurut yang say abaca di Koran harian kompas. Pemerintah DKI Jakarta sedang melakukan pengerukan. Dengan tujuan untuk mengurangi beban banjir yang ditanggung Jakarta. Ya, kita berdoa saja semoga itu bisa segera terwujut. Dan juga Pemerintah DKI telah berusaha untuk memperbaiki dan menghijaukan kembali bantaran Sungai Ciliwung itu.
Setelah Sungai ini telah berhasil dibenahi, maka sungai ini bisa kita manfaatkan sebagai salah satu objek wisata dan daya tarik wisatawan. Dan mampu meningkatkan pendapatan, baik itu pendapatan Negara maupun pendapatan Rakyat. Sesuai dengan program pemerintah yaitu program Water Way. Wisatawan dapat berkeliling melihat keindahan Kota Jakarta ini dari sudut pandang yang berbeda.

Hari demi hari Sungai Ciliwung menanggung beban yang semakin hari semakin berat. Sudah tak terhitung jumblahnya. Seandainya Sungai Ciliwung bisa berbicara, maka ia akan mengatakan “ Hai manusia, Aku sudah lelah, sudah tak sanggup lagi untuk menahan beban yang kau timpakan kepadaku. Berhentilah menyiksaku, Aku ingin mengalir dengan derasnya, Aku ingin membuang, mengusir dan menghindari benda – benda yang akan berusaha menghentikanku. Aku ingin kehidupan seperti apa yang dialami sungai – sungai laninya, penuh dengan kesejukan. Aku ingi hidup ! ingin merasakan sari pati hidup ! ingin merasakan air terjun alami !”
Oleh karena itulah, kita sebagai khalifah yang ditugaskan oleh Allah SWT untuk mengelola Bumi ini, sudah sepantasnya menjaga, melestarikan dan merawat alam, khususnya Sungai yang satu ini, Sungai yang akan mengubah Kota Jakarta, Sungai yang akan melindungi Kota Jakarta dari terjangan BANJIR, yaitu Sungai CILIWUNG.

Artikel ini diambil dari blognya Ahmad
Continue Reading

Minggu, 24 Mei 2009

Tragedi Atas Nama Demokrasi

Jika masalahnya hanya memperlihatkan kebodohan para pihaknya tentu tak masalah. Tapi, jika tindakan itu membuat energi bangsa ini terbuang sia-sia dan menyeret sebagian dari bangsa ini ke jurang kemunduran tentu Indonesia sangat merugi. Itulah yang sedang dan bakal terjadi dari wacana pengembalian Pancasila sebagai asas tunggal partai-partai politik.

Seperti diberitakan koran ini, tiga fraksi di DPR dari partai besar, yaitu Partai Golkar, PDIP, dan Partai Demokrat memasukkan masalah ini dalam daftar isian masalah (DIM) untuk dibahas dalam penyusunan paket undang-undang politik. Tentu ini kabar yang sangat menyentak. Ibarat cuaca: Tak mendung, awan cumulus pun tak ada, namun langit dipaksa untuk menurunkan hujan. Dalam kehidupan nyata, tentu itu mustahil, termasuk untuk menciptakan hujan buatan. Tapi dalam politik, semuanya mungkin saja. Harganya pun pasti sangat mahal. Akan ada pemaksaan dan pemerkosaan. Itulah sejatinya represi, tirani, dan fasisme.

Apakah kita harus menuruti saja apa maunya para politisi kita yang terhormat tersebut? Berdemokrasi tanpa memahami apa itu esensi demokrasi akan melahirkan banyak parodi dan ironi. Pasangan demokrasi adalah penghormatan terhadap kebebasan dan kemanusiaan. Dalam politik, kebebasan itu adalah kebebasan dalam berekspresi dan berserikat bagi seluruh warga. Tanpa ada sekat apa pun, termasuk sekat ideologi. Yang menjadi batas hanyalah kemanusiaan.

Dalam mempraktikkan kebebasan tersebut tak boleh ada penistaan dan pelanggaran terhadap kemanusiaan. Karena itulah, dalam kovenan Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak Sipil dan Politik, soal ini sudah diatur dengan jelas dan tegas. Setiap kebalikannya adalah pelanggaran terhadap demokrasi, yang jika dipaksakan akan terjadi pelanggaran terhadap kemanusiaan. Itulah yang terjadi di masa rezim Orde Baru, yang berhasil kita tumbangkan lewat gerakan reformasi. Sehingga, pemaksaan kembali ke asas tunggal adalah pengkhianatan terhadap reformasi dan mengingatkan kembali ke praktik rezim Soeharto. Semuanya belum terlalu lama untuk kita bisa lupa.

Tentu saja, setiap bangsa memiliki sejarah masing-masing. Jerman dan bangsa-bangsa Barat yang tercabik oleh Nazisme memiliki alasan yang sah untuk melarang ideologi tersebut. Begitu juga Indonesia, yang tiga kali dikhianati oleh PKI, punya hak untuk melarang komunisme. Dengan demikian, demokrasi yang berujung pada penghormatan terhadap pluralisme dan ekspresi tiap individunya memang bisa saja ada batas yang disahkan oleh sejarah dan nilai-nilai yang memiliki akar sosial. Tanpa itu, tak akan ada pluralisme yang kokoh dan berakar.

Pada sisi lain, politik warga harus dibedakan dengan politik negara. Apa yang dikemukakan di atas adalah politik warga. Sedangkan untuk politik negara, kita sudah memiliki dasar negara yang kuat lewat UUD 1945. Di sana kita sudah sepakat mau ke mana dan dengan apa Indonesia disusun dan ditegakkan. Indonesia adalah negara Pancasila. Itulah harga yang tak bisa ditawar. Namun, jangan sampai kita dibuat campur aduk antara politik warga dan politik negara.

Kita khawatir bahwa wacana ini dikemukakan hanya untuk tujuan-tujuan jangka pendek, berupa kepentingan politik sesaat. Misalnya hanya untuk mengerdilkan partai tertentu yang sekarang sedang berkembang pesat. Tentu ini adalah cara-cara yang bodoh dan keblinger. Tak salah jika citra politisi kita terus merosot. Pada sisi lain, kita merindukan hadirnya negarawan. Wacana asas tunggal ini hanya akan melahirkan blessing in disguise kepada publik: Di manakah sarang politisi hitam tersebut.

Kekhawatiran tersebut sangat beralasan. Karena, saat ini tak ada gejala maupun fakta keras bahwa Pancasila terancam oleh asas partai. Selain itu, nasionalisme bukan sedang tergerus oleh identitas politik. Kita justru sedang menghadapi krisis integritas para pemimpin. Kita merindukan kejujuran, kejuangan, kerja keras, dan kedisiplinan. Itulah hal-hal yang harusnya menjadi kegelisahan para politisi kita.

Sumber: Republika Online
Continue Reading

Senin, 27 April 2009

Waspasdai Ramalan Ke-7 Joyoboyo Oleh Sujiwo Tejo

Sebanyak enam ramalan Joyoboyo terjadi, adakah ramalan ketujuh bakal muncul?

Keenam ramalan Joyoboyo yang sudah terjadi adalah runtuhnya Majapahit, Belanda masuk. Hengkangnya Belanda, Jepang masuk, perang saudara dan bertenggernya kekuasaan tentara. Sedangkan ramalan ketujuh adalah Tikus pithi anoto baris. Tafsirnya, barisan pemberontakan rakyat Nusantara dari berbagai penjuru.

Geger 1998 yang melengserkan President Soeharto sebetulnya belum merata. Bisa dikatakan, ini Cuma pecah di beberapa kampus, Gedung MPR/DPR, glodok, dan beberapa tempat di Jakarta. Situasi akan jauh berbeda dibandingkan berkorbarnya api dari tikus pithi anoto baris yang sekamnya kini mulai rantak membara di sekujur Nusantara karena cekcok pemilu legislative.

Namun, tikus pithi anoto baris sebenarnya bias dihindari. Nujum memang bertugas membuat kita pasrah menyongsong kehadirannya yang laksana nasib. Tetapi, bukankah nubuat juga membuat kita ancang-ancang, waspada, dan melakukan berbagai nazar agar kehadirannya batal?

Membatalkan hasil pemilu?

Menggugurkan hasil pemilu legislative kelihatanya sudah tidak mungkin, demi beberapa fakta. Antara lain, pertama, partai-partai besar dan partai-partai lumayan sibuk memikirkan koalisi untuk pemilu presiden. Artinya, tanpa dikatakan, mereka sebenarnya sudah nrimo hasil pemilu legislative.

Kedua, Mahkamah Konstitusi mengatakan, pemilu legislative mustahil dibatalakan. Yang bias diubah atas dasar persidangan perkara hanya komposisi penghasilan suara partai.

Ketiga, Prabowo Subianto sang”kuda hitam”, perlu menggalang dukungan partai-partai kecil untuk maju dalam pemilu presiden. Dalam logika sederhana dan awam. Itu berarti partai-partai kecil harus menandatangani berita acara keabsahan pemilu legislative.

Cacah Ulang

Yang paling mungkin menghindari tikus pithi anoto baris adalah titah kepemimpinan nasional agar semua pihak gotong royong membantu cacah ulang peserta pemilu presiden mendatang. Ini karena perasaan saja bahwa ada tau tidak ada rekayasa politik, daftar pemilih tetap(DPT) akan kacau jika data mentah yang mendasarinya pun sudah kacau.

Titah dan ketegasan sikap kepemimpinan nasional inilah yang akan membuat cacah ulang data dasar tak bakal mustahil dilakukan dalam waktu singkat. Apalahi dengan bantuan teknologi informasi.

Misalnya, mengaktifkan lagi petugas BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) yang tersebar sampai pelosok. Kita ingat, bahkan sampai tingkat desa, para petugas itu tidak Cuma mencatat peserta KB. Dalam wilayah tugasnya dan dalam perkembangan berikutnya, mereka tahu siapa yang Lampid (Lahir, Mati, Pindah, Datang). Kabarnya mereka masih punya data hingga 2005, Sistem pensataanya pun masih ada. Begitu tombol diaktifkan,…jalan!

Titah dan ketegasan sikap kepemimpinan Nasional juga bias menggerakkan ibi-ibu PKK, Karang Taruna, dan Pramuka serta RT/RW untuk saling bahu-membahu. Hasil pencacahan berbagai pihak itu saling di-cross check dengan hasil dari administrasi kependudukan Depdagri yang punya wilayah di tiap pusat provinsi maupun dinas-dinas catatan sipil tingkat kota/kabupaten yang punya tangan sampai tingkat RT. Holopis kuntul baris dan rambate rata hayo dari semua ini kita pasok data dasar ke KPU yang selanjutnya akan memprosesnya menjadi DPT.

Mungkin saja keaktifan penyelenggara Negara dalam pencatatan ulang ini menyimpang dari undang-undang yang justru mengharuskan rakyak aktif mencatatatkan diri sendiri, penyelenggara Negara pasif. Tetapi, seingat penulis, jika kemudian terbukti UU bertentangan dengan akal sehat dan kondisi nyata masyarakat, kepemimpinan nasional bias mengeluarkan peraturan pengganti undang-undang. Maka, lebih baik mempunyai undang-undang buruk tetapi hakimnya(pemimpinnya) baik dan bernurani daripada sebaliknya.

Langkah lain

Selain cacah ulang data yang mendasari penyusunan DPT untuk pemilu presiden, mungkin masih ada langkah-langkah lain penghindaran tikus pithi anoto baris. Yang pasti, segenap upaya penghindaran harus dituntaskan.

Ini penting mengigat enam ramalan Joyoboyo sudah terjadi, yaiotu Murcane Sabdo Palon Noyo Genggong (runtuhnya Majapahit), Semut Ireng Anak-anak Sapi (masuknya Belanda), Kebo Nyarang Kali (Belanda kenyang dan hengkang), Kejajah Saumur Jagung Karo Wong Cebol Kepalang (Jepang masuk 3,5 abad), Pitik Tarung Sak Kandang (perang saudara zaman Bung Karno), Kodok Ijo Ongkang-Ongkang (tentara berkuasa era Soeharto).

Hitung-hitung, sambil menjajal diri, siapakah yang lebih sakti, kita semua dari millennium ini atau “Cuma” seorang diri Joyoboyo dari abad ke-11 silam?
Continue Reading

Minggu, 19 April 2009

Solusi Macet Masa Kini dan Masa Depan

Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya. Sering terjadi kemacetan dimana-mana. Sebenernya apa sih penyebab dari kemacetan itu sendiri ? Ada beberapa sebab yang bias dijadikan tersangka (weleehhh tersangka kaya’ kasus ajahh).

Diantara dari sekian banyak sebabnya. Saya ingin membicarakan tersangka yang satu ini, yaitu banyaknya kendaraan bermotor yang berlalu lalang. Kenapa say mengambil topic ini? Karena setiap saya berpergian kemana-mana, saya selalu melihat mobil (pribadi) diisi hanya dengan satu manusia saja. Jika penduduk Jakarta sekian juta jiwa, maka sekian juta pulalah mobilnya. Waduhhh…gimana nggak mau macet…!!!

Bukan hanya mobil saja, tetapi motor juga berperan penting sebagai tersangka penyabab kemacetan. Lihat saja di setiap lampu merah pada barisan terdepan. Apa yang ada disana? Yup..Motor menguasainya. Banyak sekali motor di Jakarta itu dipengaruhi dengan harganya yang cukup murah bagi kalangan ekonomi menengah kebawah dan sekarang kredit udah gampang. Jadi tunggu apalagi!!!Tak hanya itu angkutan umum juga turut serta dalam menyumbangkan armadanya ke jalan raya.

Selain itu, kendaraan bermotor juga menyebabkan polusi yang tidak sedikit dan dapat berakibat fatal. Di saaat jalanan sepi, mobuil atau motor sering seenaknya menancapkan pedal gas mereka dan melaju dengan cepatnya. Saya pernah membaca di Koran Jakarta, bahwa mobil yang melaju normal dengan mobil yang melaju cepat itu berbeda tingkat polusi yang dikeluarkannya. Semakin cepat laju mobil tersebut maka semakin besar pula karbon yang dikeluarkan oleh kuda besi tersebut.

Beragam upaya telah dilakukan oleh Pemda kota Jakarta untuk mengatasi kemacetan ini. Mulai dari Buswaqy, anak sekolah dimajukan jam masuknya, proyek monorel yang tak kunjung kelar, dsb. Tapi tetap tak bias mengatasi yanga namanya macet. Menurut saran saya, sebaiknya produksi mobil atau kendaraan bermotor dihentikan atau diminimalisir. Tapi itu tak akan mungkin melihat banyaknya warga yang menggantungkan hidupnya sebagai pekerja di pabrik atau perusahaan pembuat kendaraan bermotor. Lantas upaya apa lagi yang harus dilakukan? Untuk itu sudah sebaiknya kita mencontoh Negara yang pernah menjajah kita selama 350 tahun, yaitu Belanda. Disana, mobil atau motor jarang sekali terlihat yang terlihat hanyalah sepeda. Di Belanda kendaraan utama bukanlah mobil seperti di Indonesia melainkan sepeda. Pemerintah Belanda juga menyediakan faailitas jalu khusus sepeda yang digunakan untuk pengendara sepeda. Tapi program sepeda ini apabila diterapkan, akan memakan waktu yang tidak sebentar untuk mensosialisasikannya dan membutuhkan kerja sama serta peran dari masyarakat dengan pemerintah.

Ayolah kawanku…mulai sekarang beralilah ke sepeda, selain ekonomis karma tak perlu bensin dan juga ngak perlu antre berjam-jam untuk membelinya, sepeda juga menyehatkan. Bike To Everyone.

Continue Reading
 

About

Site Info

Text

Aspirasi Rakyat Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template