Follow Me on Twitter

    Selasa, 07 September 2010

    Saat Malaikat Bicara Pendidikan


    Educatiel adalah malaikat yang ditugaskan Tuhan untuk mengawasi perkembangan kecerdasan manusia, khalifah sekaligus makhluk kesayangannya di bumi. Sekitar medio tahun 2010, Educatiel banyak sekali menerima laporan doa dan keluhan seputar pendidikan yang datang dari bumi Indonesia. Penasaran dengan apa yang terjadi di Indonesia, Educatiel mengundang seluruh malaikat penjaga dari anak – anak Indonesia untuk rapat dan mencari tahu sebetulnya sedang ada apa dengan pendidikan di Indonesia.
    Setelah malaikat – malaikat penjaga itu berkumpul Educatiel memulai rapat dan membukanya dengan menceritakan apa yang didengarnya dari bumi Indonesia.
    Saudara – saudaraku malaikat yang terhormat, banyak manusia di bumi Indonesia yang mengatakan ada kegagalan pendidikan di bumi Indonesia sana. Konon salah satunya terlihat karena adanya semacam ujian di sana yang banyak pesertanya yang tidak lulus. Berikut saya akan membacakan dugaan – dugaan saya mengenai kasus Indonesia ini dan mohon untuk ditanggapi.
    lalu Educatiel pun mulai membacakan dugaan penyebab banyak manusia di bumi Indonesia yang mengeluhkan pendidikan:
    Pertama – tama, saya ingin sampaikan bahwa banyak manusia yang mengeluhkan pemerataan kesempatan pendidikan, apakah benar itu terjadi dan menjadi sebab krusial di Indonesia?
    “Maaf paduka, perkenalkan saya adalah malaikat penjaga dari seorang gadis berusia 12 tahun yang tinggal di sebuah desa. Di desa tempat saya bertugas, fasilitas pendidikan minimalis sekali. Sekolah luasnya tidak lebih dari beberapa jengkal saja. Ruang kelas yang tersedia terbatas jadi harus dipakai bergantian. Kondisinya pun sangat jauh dari layak paduka.
    Namun, menurut saya hal itu bukan masalah utama, meskipun minim setiap anak bisa mengenyam ilmu yang cukup sebetulnya. Sayangnya, anak – anak ini justru kurang mendapat kesempatan dari orang tua mereka sendiri paduka. Siang hari sepulang sekolah mereka diminta membantu orang tua mereka bekerja di kebun. Di malam hari mereka terlalu lelah untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Dan di luar itu semua paduka, tidak semua orang tua menginginkan anaknya sekolah. Banyak di antara mereka yang lebih suka anaknya meladang, membantu mengurus rumah saat bapaknya bekerja atau malah menikahkan mereka sejak dini.”
    Hmm, begitu ya. Kalau begitu mungkinkah karena fasilitas di tempatmu minim, sehingga orang tua juga merasa ragu menyekolahkan anaknya? Mungkinkan bukan saja pemerataan kesempatan tapi juga pemerataan fasilitas pendidikan anak juga perlu diperhatikan?
    “Interupsi pak ketua. Sebelumnya mohon maaf, saya menjaga seorang anak lelaki di ibukota berusia 16 tahun. Orang tuanya sangat mampu. Anak yang saya jaga setiap hari kini ke sekolah dengan mobil mewah, membawa smartphone terbaru dan kartu kredit gold di dompetnya. Ia bersekolah di sekolah dengan fasilitas super mewah, namun apa lacur, tetap saja nilainya buruk dan orang tuanya mengeluhkan itu terus menerus.
    Dan anak itu bukan satu – satunya paduka. Di sekolah tersebut juga banyak siswa yang standar keilmuannya rendah sehingga para guru pun mau tidak mau mengatrol nilai siswa – siswinya agar tidak kena labrak kepala sekolah yang begitu membanggakan sekolahnya itu.”
    Begitukah? wah, yang miskin gagal. yang kaya juga gagal, apa jangan – jangan negri itu anak – anaknya bodoh semua ya?
    Saat itulah, seorang malaikat lain berdiri mengangkat tangannya. Berbeda dengan 2 malaikat sebelumnya yang melapor dengan tatapan lesu selesu kebanyakan orang di bumi Indonesia ketika membicarakan pendidikan, malaikat ini mengangkat kepalanya tegak setengah angkuh, tersenyum dan berbicara dengan penuh semangat:
    Anak yang saya jaga bukanlah orang berada. Keluarganya miskin. Sekolah pun meskipun di daerah ibukota hanya di sebuah sekolah pinggiran yang mungkin tidak jauh lebih baik dari gadis di cerita malaikat pertama. Ayahnya bukanlah orang yang pintar atau hebat. Masa mudanya Ia hanyalah buruh cetak di perusahaan koran dan kini Ia menjadi pengamen setelah dipecat akibat perusahaannya merugi saat krisis.
    Walau begitu yang mulia, kebetulan saat muda Ia suka sekali membaca koran sisa hasil cetakannya. Ia membawanya pulang ke rumah dan membacanya bersama istrinya. Rubrik kesukaannya adalah rubrik berbau profil para tokoh. Ia selalu senang membaca kisah sukses para tokoh itu sambil berharap suatu hari Ia bisa sukses seperti mereka. Tapi apa daya, semakin Ia membaca semakin minder Ia terhadap hidupnya. Banyak sekali tokoh sukses yang Ia baca di koran, tapi sedikit sekali yang sukses tiba – tiba, kebanyakan dari mereka telah membekali dirinya dengan berbagai persiapan sejak muda, sesuatu yang Ia gagal lakukan.
    Ketika Ia punya anak, di pikirannya hanya 1 kalimat: “anakku harus sukses, Ia tidak boleh memiliki hidup semenderita aku!”. Dan sejak itu Ia mencurahkan tenaganya untuk bekerja ekstra demi menyekolahkan anak – anaknya. Kemudian Ia juga menabung demi mengikuti program keluarga berencana, karena Ia berpikir bahwa menyekolahkan 1 anak itu berat, maka Ia tidak ingin punya anak terlalu banyak seperti saudara – saudaranya di kampung yang berpikir banyak anak banyak rejeki.
    Ia tidak membacakan buku dongeng pada anaknya. Yang Ia bacakan adalah rubrik tokoh di koran kesayangannya. Satu hal yang Ia tanamkan pada anak – anaknya adalah “nak, kamu bisa punya kehidupan yang lebih baik dari bapak, tapi kamu harus mempersiapkan segalanya, terutama pendidikan kamu”
    IQ anak – anaknya sebetulnya juga tidak jauh beda dengan si bapak. Mereka tidak begitu cerdas, tidak bisa menghitung perkalian 2 digit kali 2 digit di luar kepala dengan cepat. Namun inspirasi dari sang ayah dan dorongan dari sang ibu membuat mereka bertekad untuk belajar keras.
    Dan sejauh yang saya lihat, perjuangan orang tua itu terbayar. Anak – anaknya bisa mendapat ilmu yang cukup meski memulai dari sekolah pinggiran. Ada 2 anak yang kujaga di keluarga itu. Si kakak sampai saat ini bisa mempertahankan prestasinya di 10 besar smp-nya, sementara si adik memang sedikit lebih pintar kerap menjadi juara kelas.
    Lalu, apa kesimpulanmu dari cerita ini wahai malaikat penjaga anak – anak yang beruntung tersebut?
    Jadi kalau boleh saya berpendapat paduka, sekolah memang hanya bisa memberikan ilmu. Banyak orang di bumi Indonesia yang tidak menyukai ini dan berpendapat harus ada pembimbingan moral di sekolah, namun menurut saya ini tidak tepat. Perlu diingat di bumi Indonesia, mencari guru yang bisa mengajar keilmuan dengan baik saja susah, apalagi yang bisa mengajar keilmuan dan moral?
    Masih ada satu pihak yang sebetulnya punya peranan penting pada pendidikan anak, yaitu orang tua masing – masing. Masalahnya, orang tua dari anak – anak generasi sekarang juga menjalani usia sekolah 20-30 tahun yang lalu, dan saat itu pendidikan juga belum sukses. Saya tidak melihat pendidikan di bumi Indonesia ini gagal sekarang, yang saya lihat ya dari dulu memang belum sukses. Mendidik anak itu mudah, namun kalau orang tua dari anak tersebut tidak punya visi yang sama dalam mendidiknya, bisa menjadi sulit. Banyak orang tua tidak tahu seperti apa dunia karir saat ini, contoh mudah beberapa minggu lalu di bumi Indonesia gempar karena berita seorang anak sangat cerdas dipekerjakan menjadi tukang sapu karena orang tuanya mendesak si anak bekerja di tempat tersebut. Lalu kisah anak cerdas yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena orang tuanya mengarahkan ke pernikahan dini, bekerja membantunya atau malah karena saudaranya terlalu banyak sehingga dananya kurang juga kerap terjadi.
    Paduka Educatiel, sejauh ini saya melihat, anak – anak di bumi Indonesia tidak termotivasi untuk belajar karena memang tidak diberikan gambaran yang baik mengenai masa depan yang bisa didapat oleh orang tua mereka. Maka dari itu, saya rasa apa yang bisa dilakukan bukanlah dengan memperbaiki sekolah atau mengganti model ujian, tapi memastikan anak – anak itu mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan dari orang tua mereka masing – masing, yaitu motivasi untuk menjalani pendidikan dan menjelaskan kepada orang tua mereka apa pentingnya pendidikan bagi anak – anak mereka, karena tanpa itu, mau semewah apapun kita bangun gedung sekolah di pedesaan tetap tidak akan ada gunanya.
    Terima kasih atas waktunya dan mohon maaf jika ada kesalahan dalam kata – kata saya.
    Seketika itu seluruh hadirin sidang malaikat terdiam mendengar penuturan tersebut. Mereka mulai membayangkan bahwa apa yang terjadi saat ini adalah masalah yang sudah mengakar sejak puluhan tahun lalu. Masalahnya bukan pada dana, fasilitas, sistem atau kurikulum, tapi modernisasi visi masyarakat akan pendidikan dan juga penekanan akan pentingnya pendidikan itu sendiri, sesuatu yang terdengar sepele tapi rasanya berat sekali dilakukan.
    ________________________________________________________________
    tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba opini pendidikan di web Indonesia Berprestasi, tulisan yang sama bisa anda temukan di blog pribadi saya. :)

    Continue Reading

    Buku, Kenangan Atau Dendangan?


    Buku, seperti yang kita semua ketahui adalah sumber dari segala pendidikan, karena buku adalah jendela dunia. Sejak dulu, para pengajar menggunakan buku sebagai acuan untuk mengajar di kelas. Semua kegiatan belajar mengajar tak lepas dari yang namanya buku, mulai dari buku tulis sampai buku lembar kerja siswa (LKS). Semua perhatian pelajar Indonesia pun mau tak mau tertuju pada buku-buku sekolah. Namun, sekarang jaman telah berubah, gerbang era globalisasi telah terbuka, dan warga Indonesia sedikit demi sedikit ikut masuk melalui gerbang tersebut. tak heran apabila budaya lama kita semakin ditinggalkan, dan tergantikan dengan berbagai teknologi canggih yang sisi positifnya jauh lebih menguntungkan apabila dimanfaatkan.
    Era globalisasi ini juga telah mempengaruhi cara guru mengajar di sekolah.Sekarang semakin banyak guru yang memanfaatkan teknologi saat pembelajaran, salah satu contohnya adalah menggunakan Liquid Crystal Display (LCD) Proyektor. Memang, hal ini lebih memudahkan, baik guru maupun siswa, dalam kelancaran pembelajaran. Namun, berkaitan dengan program Departemen Pendidikan Nasional yang mengisyaratkan  “Indonesia Gemar Membaca Buku”, tentu akan mengalami penurunan yang sangat drastis. Hal ini disebabkan karena siswa cenderung lebih suka untuk mneg-copy file yang telah diterangkan oleh guru, dan mereka hanya akan belajar dari sana, bukan lagi dari buku. Padahal, apabila mereka belajar dari buku, banyak sekali hal-hal yang tidak ditemukan dalam file guru namun ada di dalam buku.
    Andai saja hal tersebut telah diterapkan di seluruh Indonesia, akankah buku masih bermanfaat bagi pelajar Indonesia? Lalu, apa lagi yang dapat kita harapkan dari buku, sedangkan jaman telah memaksa kita untuk meninggalkannya dan beralih ke sesuatu yang baru? Semoga saja Depdiknas dapat menemukan cara untuk menyeimbangkan antara penggunaan buku dan teknologi. (joe)
    http://jred-file.blogspot.com
    Continue Reading

    Senin, 05 Juli 2010

    Menjadi Bangsa yang Berkarakter


    Lomba Opini Indonesia Berprestasi
    Tema : “Pendidikan Indonesia : Mau Dibawa Ke Mana?”
    Menjadi Bangsa yang Berkarakter
    Oleh. Daniel Hermawan
    Pendidikan ibarat sebuah kunci untuk membuka pintu dunia. Pendidikan memegang peranan penting bagi kemajuan suatu bangsa. Bangsa yang maju adalah bangsa yang mengutamakan pendidikan bagi warganya. Berbagai inovasi, pemikiran, penemuan, dan ide-ide cemerlang lahir dari proses pendidikan. Pendidikan membuat suatu bangsa berpikir kreatif, kritis, dan ingin tahu. Bangsa yang tidak mengenal pendidikan lambat laun akan tergerus oleh arus zaman.
    Saat ini pendidikan menjadi isu hangat yang dibicarakan di Indonesia. Berbagai media massa dan elektronik menyajikan berita seputar wajah pendidikan Indonesia saat ini, mulai dari kasus plagiarisme hingga anak putus sekolah. Kasus yang terjadi di lembaga pendidikan ini telah mencoreng citra pendidikan Indonesia di mata internasional. Dunia internasional mulai meragukan kualitas dan kompetensi lulusan Indonesia akibat kasus pelanggaran akademis yang terjadi.
    Kasus plagiarisme yang dilakukan Prof. Dr. Anak Agung Banyu Perwita selaku staf pengajar mata kuliah Hubungan Internasional di salah satu universitas swasta yang cukup terkemuka di Indonesia telah menodai citra pengajar Indonesia. Pengajar yang seyogianya memberi teladan bagi peserta didik, justru melakukan pelanggaran akademis yang fatal. Akibat perbuatan ini, Prof. Dr. Anak Agung terancam dipecat dan gelar doktor yang sandangnya saat ini juga terancam dicopot.
    Di kalangan pelajar, MZ selaku mahasiswa program doktor di salah satu universitas negeri ternama di Indonesia juga terlibat dalam kasus serupa. MZ menjiplak laporan penelitian ilmuwan Belgia yang diikutsertakan dalam lomba penelitian internasional di China tanpa melampirkan sumber kutipan dan referensi. Akibatnya, gelar doktor MZ dicabut dan nama baik universitas MZ menjadi tercoreng.
    Di sisi lain, kemiskinan juga masih menjadi masalah utama kemajuan pendidikan di Indonesia. Sebanyak 8.800 anak putus sekolah terpaksa mengamen dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Padahal mereka masih berusia sangat belia dan berada dalam usia anak sekolah. Mereka harus merelakan masa depan mereka demi memenuhi kebutuhan hidup mereka masing-masing.
    Pemerintah sebenarnya sudah melakukan program BOS dan Sekolah Gratis di Indonesia. Sayangnya kedua program ini belum memberikan pencerahan bagi dunia pendidikan Indonesia. Banyak pihak  yang seharusnya menjadi sasaran utama program ini justru tidak mendapatkan haknya. Sekolah Gratis juga tidak benar-benar “gratis” dengan berbagai biaya operasional sekolah yang ada, seperti buku pelajaran, seragam, fotokopi, dan lain sebagainya. Akhirnya keberadaan kedua program ini tidak sesuai dengan yang kita harapkan.
    Jujur saya prihatin melihat kasus Bank Century yang tak kunjung usai. Para wakil rakyat yang duduk di kursi DPR seakan sibuk dengan berbagai permainan politik yang menguntungkan partainya. Sikap dan tindakan para wakil DPR juga tidak mencerminkan orang yang terdidik dengan aksi dorong-dorongan dan maki-memaki di ruang DPR. Sungguh memprihatinkan memang. Pada akhirnya, pendidikan bangsa yang menjadi kunci keberhasilan suatu bangsa menjadi prioritas yang terabaikan.
    Saya rasa pendidikan Indonesia saat ini sudah mengalami degradasi moral. Era kemajuan teknologi dan informasi yang berkembang di Indonesia membuat norma-norma susila yang ada mulai diabaikan. Banyak orang kini menjadikan kebenaran sebagai sesuatu yang relatif, tergantung sudut pandang orang tersebut. Sesuatu yang awalnya dianggap tabu, kini dianggap sebagai sebuah kewajaran. Tak heran jika perilaku-perilaku menyimpang, seperti korupsi, plagiarisme, mencuri, dan berbagai kasus lainnya kini dapat diartikan sebagai kebenaran bagi sekelompok orang.
    Melihat fenomena ini, pemerintah mengusung tema Hari Pendidikan Nasional 2010 : “Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa”. Degradasi moral yang terjadi di dunia pendidikan saat ini dapat diatasi jika kita membenahi karakter dan pola pikir kita selama ini. Kepandaian memang kunci keberhasilan suatu bangsa. Namun, kepandaian tanpa karakter lambat laun akan menghancurkan keberhasilan yang dicapai. Karakter akan membatasi dan memberikan garis yang jelas antara sesuatu yang baik dan buruk untuk dilakukan.
    Pendidikan karakter sendiri dapat diberikan di lembaga pendidikan sedari dini. Pelajar harus diajarkan dan dibina untuk menjadi pribadi yang berkarakter. Karakter manusia sendiri mencakup nilai-nilai luhur, integritas, kekuatan mental, tenggang rasa, semangat kerja sama, dan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat. Karakter akan membuat seseorang menjadi cerdas, baik secara intelektual maupun moral.
    Menumbuhkan bangsa yang berkarakter memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pengajar dan pemerintah harus bekerja sama dalam mengikis nilai-nilai kebebasan dan individualisme     yang melekat dalam diri pelajar. Terlepas dari itu, keluarga juga turut membentuk karakter seseorang sedari dini. Keluarga harus menjadi lembaga pertama dan utama dalam memberikan pemahaman yang benar seputar karakter. Karakter dapat ditumbuhkan dari sikap keteladanan seseorang yang menjadi cerminan bagi orang lain.
    Karakter ibarat sebuah pijakan yang menghantarkan kemajuan suatu bangsa. Tugas kita sekarang sebagai pelajar, pengajar, pemerintah, dan keluarga adalah menggali kembali nilai-nilai kebenaran yang tergerus oleh arus zaman. Karakter akan menempatkan manusia pada posisi yang tepat dan potensi yang maksimal. Maka mari kita wujudkan bangsa yang berkarakter dengan membenahi pola pikir dan mentalitas kita selama ini.
    Link : http://lifeisabook51.blogspot.com/2010/05/menjadi-bangsa-yang-berkarakter.html
    Continue Reading

    Minggu, 06 Juni 2010

    Dibawa Kemana Pendidikan Kita ? -Belajar dari Jepang-


    Mencermati realitas pendidikan Indonesia saat ini, kita harus jujur mengatakan bahwa  sistem pendidikan yang dibangun masih belum ideal.  Masih banyak ditemukan catatan   kekurangan dalam beberapa hal.  Misal digugatnya UAN oleh beberapa pihak, cacatnya pelaksanaan UAN karena berbagai fakta kecurangan yang dilakukan oleh oknum pendidik, tidak klop-nya pendidikan dengan dunia kerja, mahalnya biaya pendidikan, sarana pendidikan yang masih kurang memadai, dan lain-lain.
    Menarik untuk mencermati pendidikan di Jepang.  Jepang mewajibkan pendidikan dasar 9 tahun bagi warganya, sama seperti kita.  Bedanya, pemerintah hingga lini terbawah siap dengan kebijakan pendidikan wajib 9 tahun tersebut.  Akses masyarakat terhadap sarana pendidikan sangat mudah, karena setiap distrik pasti memiliki SD dan SMP dengan standar kualitas yang sama di seluruh Jepang.  Dan semua biaya pendidikan dasar itu digratiskan…tis..tis…  Kecuali untuk beberapa keperluan misal karya wisata, bentou (makan siang ).
    Satu hal yang juga menarik, pendidikan dasar (shougakkou -SD) tidak mengenal ujian kenaikan kelas.  Siswa yang telah menyelesaikan proses belajar di kelas satu secara otomatis akan naik ke kelas dua, demikian seterusnya. Ujian akhir pun tidak ada, karena SD dan SMP (Chougakkou ) masih termasuk kelompok compulsory education , sehingga siswa yang telah menyelesaikan studinya di tingkat SD dapat langsung mendaftar ke SMP.  Lantas, bagaimana mengevalusi para siswanya ?
    Tentu saja tetap ada proses evaluasi.  Guru tetap melakukan ulangan sesekali untuk melihat kemampuan dan daya serap murid terhadap pelajaran.  Nilai yang diberikan bukan berupa angka, tapi huruf A, B, C, kecuali untuk pelajaran matematika. Nanti di kelas 4, 5 dan 6 SD para murid diberikan test IQ untuk melihat tingkat kemampuannya.  Tapi hasil test itu bukan bertujuan untuk mengelompokkan para murid.  Sistem pendidikan di Jepang tidak mengenal klasifikasi kelas berdasarkan tingkat kecerdasan siswa (ada kelas unggulan, sekolah unggulan dan seterusnya, seperti di Indonesia ).  Semua kelas terdiri dari anak-anak dengan beragam tingkat kecerdasan. Jepang juga tidak mengenal sistem pemberian ranking atau peringkat kepada muridnya.  Sehingga semua murid tak ada yang merasa lebih dari teman-temannya.  Hasil test IQ tersebut nantinya digunakan untuk memberikan perhatian “lebih” kepada murid dengan IQ di atas normal dan di bawah normal.
    Kantor pemerintah pada lini terbawah (distrik ) mempunyai data lengkap tentang penduduk di wilayahnya, termasuk data anak yang sudah masuk usia sekolah (sudah berusia 6 tahun atau lebih hingga bulan Maret tahun tersebut ). Orang tua akan dikirimi surat oleh kantor distrik yang berisi panggilan untuk memasukkan anaknya ke sekolah, berikut daftar SD negeri yang terdekat dari tempat tinggalnya.  Anak tidak diperbolehkan mendaftar SD dan SMP di luar wilayah tempat tinggalnya karena mereka mulai dididik untuk mandiri.  Anak-anak di Jepang semenjak SD tak diperkenankan untuk diantar orang tuanya ke sekolah.  Nah, bagaimana jika penduduk di distrik tersebut sedikit ?  Pendidikan di kelas tetap berlangsung walau hanya dihuni oleh 10 orang siswa sekalipun.
    Untuk menjamin kualitas pendidikannya, pemerintah mengontrol dengan ketat seluruh sekolah di Jepang.  Kualitas sekolah negeri di semua distrik sama, dalam arti fasilitas sekolah, bangunan, tenaga pengajar dengan persyaratan yang sama (guru harus memegang lisensi mengajar yang dikeluarkan oleh Educational Board setiap prefecture ). Oleh karena itu mutu siswa SD dan SMP di Jepang yang bersekolah di sekolah negeri dapat dikatakan “sama”, sebab Ministry of Education mengondisikanequality di semua sekolah.
    Di tingkat SMP dan SMA – sama seperti di Indonesia – ada dua kali ulangan, mid test dan final test, tetapi tidak bersifat wajib atau nasional. Hanya beberapa prefecture saja yang melaksanakan final test.  Final test dilaksanakan serentak selama tiga hari, dengan materi ujian yang dibuat oleh sekolah berdasarkan standar dari Educational Board di prefecture tersebut. Penilaian kelulusan siswa SMP dan SMA tidak berdasarkan hasil final test saja, tapi akumulasi dari nilai tes harian, ekstra kurikulermid test dan final test. Dengan sistem seperti ini, tentu saja hampir 100% siswa naik kelas atau dapat lulus.
    Selanjutnya siswa lulusan SMP dapat memilih SMA yang diminatinya, tetapi kali ini mereka harus mengikuti ujian masuk SMA yang bersifat standar.  Artinya soal ujian dibuat oleh Educational Board di setiap prefecture. Dalam memilih SMA, siswa berkonsultasi dengan guru, orang tua atau disediakan lembaga khusus di Educational Board yang bertugas melayani konsultasi dalam memilih sekolah. Ujian masuk pun hampir serentak di seluruh Jepang dengan bidang studi yang sama yaitu, Bahasa Jepang,English, Math, Social Studies, dan Science. Di level SMA ini, siswa dapat memilih sekolah di distrik lain.
    Untuk masuk universitas, siswa lulusan SMA diharuskan mengikuti ujian masuk universitas yang berskala nasional. Ini yang dianggap `neraka` oleh sebagian besar siswa SMA. Sebagian dari mereka memilih untuk belajar di juku (les privat, seperti di Indonesia) untuk dapat lulus ujian masuk universitas. Ujian masuk Perguruan Tinggi dilakukan dua tahap. Pertama secara nasional, soal ujian disusun olehMinistry of education, terdiri dari lima bidang studi seperti ujian masuk SMA.   Berikutnya,  siswa harus mengikuti ujian masuk yang dilakukan masing-masing universitas. Skor kelulusan adalah akumulasi ujian masuk nasional dan ujian di setiap perguruan tinggi. Nanti hasil ujian tidak diumumkan, tetapi jawaban ujian diberitakan lewat koran, televisi atau internet, sehingga peserta ujian masuk perguruan tinggi harus menghitung sendiri skornya. Jika tidak memenuhi skor minimal yang disyaratkan di fakultas/universitas pilihannya, peserta dapat mengikuti ujian masuk perguruan tinggi swasta atau menjalani masa ronin (menyiapkan diri untuk mengikuti ujian masuk di tahun berikutnya) di prepatory school (yobikou ).
    Penilaian mutu pendidikan di Jepang, dengan kata lain dilakukan dengan menstandarkan ujian masuk SMA dan perguruan tinggi.  Tentu saja sistem ini bisa berjalan karena pemerintah di Jepang pun berusaha maksimal untuk menyamakan kondisi public education-nya, dalam arti menyediakan infra struktur yang sama untuk setiap jenjang pendidikan di daerah.
    Kebetulan saat ini saya dan keluarga tinggal di Jepang.  Saya sering sekali memperhatikan anak-anak sekolah di sini.  Dari mulai seragam mereka, tas ransel kotak yang mereka bawa, hingga perlengkapan sekolah yang mereka gantung di sekeliling ransel.   Entah, bisa jadi kesimpulan yang saya ambil salah.  Bahwa apa yang mereka dapatkan di sekolah, apa yang diajarkan oleh para sensei, bagaimana kerasnya alam Jepang mendidik mereka, telah memberi andil pada kemajuan Jepang saat ini.
    Jika kita juga ingin maju, yuk benahi juga pendidikan kita.  Sejak pendidikan pertama yang didapatkan seorang anak, yaitu dari orang tuanya di rumah.  Artinya, ini tugas kita semua sebagai orang tua.  Berikanlah anak haknya, didiklah mereka dengan hati dan cinta.
    Pemerintah juga terlebih dahulu harus membenahi sarana dan fasilitas pendidikan kita di seluruh wilayah. Memang ini tidak mudah, karena kita sedang berbicara dalam konteks Indonesia dengan ribuan pulaunya, dengan tingkat akses yang berbeda-beda.  Masih begitu banyak PR besar yang kita hadapi. Menurut saya, sebelum pemerintah disibukkan dengan isu “swastanisasi” PTN atau UAN yang katanya akan meningkatkan mutu pendidikan kita.  Alangkah lebih baik jika pemerintah berupaya keras terlebih dahulu memperhatikan pemenuhan pendidikan dasar 9 tahun.  Berupaya memperluas akses masyarakat untuk mendapatkannya.  Memperbaiki sarana dan fasilitas pendidikan di tingkat ini, meningkatkan kualitas guru, dan memperbaiki kurikulumnya.  Jika pendidikan dasar kita sudah mapan dan berkualitas, insya Allah jenjang pendidikan berikutnya, akan lebih mudah ditata dan ditingkatkan kualitasnya.  Semoga bermanfaat.
    Referensi bacaan : indosdm.com
    Ditulis Nurul Asmayani

    Continue Reading

    Senin, 10 Mei 2010

    Kayuhan Sepeda (Sebuah Harapan)


    Kayuhan sepeda berkilometer menghantarkan menuju anak ini menuju sebuah tempat ajaib yang ia yakin akan menghantarkannya kepada kegemilangan dihari esok. Keringat yang mengucur deras bak sarapan semangat setiap paginya. Kobaran semangat yang juga membara pada kayuhan serta derap langkah yang lainnya. Ribuan bahkan jutaan anak bangsa sangat menggantungkan asa tertingginya melalui tempat ajaib ini. Tempat ajaib itu adalah sekolah.
    Sekolah adalah sebuah lembaga pendidikan yang menjadi penting peranannya bagi kemajuan sebuah bangsa. Pendidikan merupakan salah satu konsumsi aqliyah bagi masyarakat Indonesia yang wajib tercukupi. Kehausan akan ilmu sesungguhnya fitrah manusia lho. Memang, urusan konsumsi perut lebih bersifat urgent. Bagaimana tidak, kalo urusan yang satu ini belum terpenuhi, bangsa ini bisa mengamuk dan berubah menjadi ganas. Bahkan bisa lebih ganas dari singga (Waw, serem). Namun, setidaknya jika kedua hal ini dapat terpenuhi dengan komposisi yang pas. Pasti bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang lebih gemilang. Karena sesungguhnya hidup seimbang akan lebih baik bukan?
    Lembaga pendidikan bak sebuah mantra yang akan menyulap batu yang tidak berharga menjadi permata. Memang kata mantra disini agak berbeda dengan pengertian cara kerja mantra yang kita kenal selama ini. Mantra hanya membutuhkan beberapa detik untuk mengubah segalanya. Terlihat mudah dan nyaris tanpa usaha yang terlalu keras. Namun, lain halnya dengan pendidikan. Mantra pada pendidikan cukup membutuhkan waktu yang lama dalam melakukan pekerjaanya. Bisa bisa berbelas-belas tahun, perpuluh-puluh tahun, bahkan bisa lho sampai seumur hidup. Ada sebuah proses panjang dalam mencapai permata itu.
    Semangat kayuhan sepeda dan derap langkah dengan konsisten mencapai kegemilangan itu. Proses batu yang telah membatu berubah secara perlahan dan berkala. Perubahan yang konsisten dan pasti menuju permata yang berkilau indah. Namun, ternyata ketidakpastian mengombang-ambing proses ini. Siapa lagi yang bisa melakukan ini. Ya, kekuasaan para elit yang mengusik konsistensi dengan terjangan ketidakpastian kebijakan serta upeti.
    Para elit kelas atas sibuk mengubah-ubah kebijakan dengan alih-alih sistem harus bergerak maju. Kebijakan yang dianggap maju karena telah terbukti berhasil di negara maju. Mengertikah para elit tersebut tentang kebijakan yang sesungguhnya mereka keluarkan? Mengertikah mereka tentang pendidikan? Mengertikah mereka tentang bangsa ini secara komperhensif? Saya kira mereka sesungguhnya harus mempertannyakan ini dulu sebelum menjadi kendaraan yang akan mengakomodasi pendidikan negeri ini. Jangan-jangan mereka hanya mengejar lontaran pujian. Prestise mereka menjadi meninggi karena telah mampu ke barat-baratan.
    Para elit kelas bawah mungkin dalam hal ini hanya menjadi perpanjangan tangan dari elit kelas atas terkait dengan pelaksanaan kebijakan yang selalu saja berubah-ubah. Para elit kelas bawah mungkin tidaklah pantas untuk dipersalahkan terkait dengan kebijakan. Namun, hal ini tidak membuat elit kelas bawah luput dari ke nistaan. Elit kelas bawah yang “bermata ijo”. Mereka biasanya bermain-main dengan upeti. Menguras kantong-kantong usang dengan tagihan upeti hingga kantong-kantong tersebut menjadi kering kerontang. Tak jarang saat kantong-kantong telah kering kayuhan sepeda dan derap langkah terhenti. Berhenti karena dihentikan oleh “si mata ijo”.
    Banyak derap langkah yang harus terhenti karena mereka bingung menentukan arahnya. Peta yang mereka pegang ternyata sudah kadaluwarsa. Mereka bingung dan keadaan ini memaksa mereka harus berbalik arah ke garis awal dan mulai mengikuti peta yang baru. Ternyata dipertengahan peta yang baru mereka dapatkan telah berganti lagi dengan yang baru. Walaupun tertatih mereka sabar mengurut langkah dengan pelan dan sabar dengan peta yang terbaru. Peta ini pun tanpa sadar telah kadaluwarsa juga. Kaki-kaki mereka mulai menggerutu dan menampakan protes kekesalan karena alur yang tidak pasti. Derap langkah pun memilih untuk berhenti saja.
    Saat kayuhan sepeda berputar dengan kecepatan rotasi yang sangat tinggi sehingga sampailah ia pada garis finish. Garis yang sesungguhnya bukanlah garis akhir. Garis ini merupakan penanda bahwa ia berhak untuk melanjutkan kayuhan ke lintasan berikutnya. Namun, Tidak bisa karena legitimasi itu tidak mampu ditebus. Apalagi kalau tidak karena kantong-kantong yang sudah keburu mengering.
    Akankah keadaan seperti ini terus terjadi? Sedangkan bangsa diluar sana semakin banyak memproduksi permata-permata berkualitas. Akankah dibiarkan saja sepak terjang “sang pemburu prestise” dan “si mata ijo”? Jadi, Mau di Bawa ke Mana Pendidikan Negeri Ini? Bukan hanya saya, kamu, dia, atau mereka yang memiliki kewajiban untuk menjawab ini. Kita semua lah yang memiliki beban untuk menjawab ini semua.
    17 Mei 2010, 23:33
    Jakarta


    Continue Reading
     

    About

    Site Info

    Text

    Aspirasi Rakyat Copyright © 2009 Community is Designed by Bie Blogger Template